menjadikan
kegelapan sebagai sandaran berikutnya dan meraih puing puing dari
puncak keegoisan yang tak perduli akan makna kesederhanaan dan menerima
keadaan yang telah tercapai,masih kudengar sejuta alasan kebaikan dengan
tujuan kemunafikan hidup
terkadang terdengar seperti nyanyian bahagia dari nada jeritan asa, masih banyak lagi hiasan kemewahan yang masih terlapisi kebohongan dan selalu saja masih dia angkuhkan,bukan tidak pernah aku menunjukan kenyataan hidup yang mungkin lebih terlihat sederhana tetapi memiliki arti yang lebih bermakna......yach tetap saja tak pernah terhiraukan hanya saja semua itu menjadikanya kebencian yang semakin mendalam, apakah tak pernah dia sadari bahwa akupun sama dengan dia, terbentuk dari darah yang sama dan mempunyai akar kehipan yang sama,apakah tidak cukup apa yang telah ditunjukan sang penguasa semesta padanya ?
dan apakah harus terlebih dahulu dicambuki dengan sesuatu yang lebih dari kepedihan yang telah ada,atau setelah membusuk menjadikanya bangkai semua keangkuhan itu akan berakhir,tidakah dia melihat atas benih yang tumbuh menjadikanya dahan baru dan telah mengakar namun tak begitu kuat dan rapuh akan jalan hidup yang masih terpampang panjang,haruskah aku mengingkari janji atas ketetapan pohon ini yang ruasnya merambat megah dan besar tetapi rapuh ?
yach.....tunggal itu berbisik padaku untuk menjaga semua tetap kokoh dan tumbuh tinggi..dan menjadikan serabut tidak lagi tersakiti oleh dahan dahan yang tak dapat menjaga ruasnya mengarah tidak sesuai dengan yang semestinya namun harus tetap membuatnya tumbuh tanpa harus menggugurkan daun yang telah rimbun dengan hijaunya persauadaraan,sering kali aku bertanya kapan dahanku ini dapat berbuah dan menjadikan pohon ini tetap kokoh bertahan meski derasnya badai cobaan itu tetap menerjang ranting ranting kekeluargaan....,
jika harus biarlah semua benalu itu hinggap di ragaku dan memeras sebagian dari kehidupanku dengan harap tidak menjalar kedahan lain yang mulai berbuah ranum menyuguhkan manisnya buah kehidupan,tidak lebih yang dapat kuharapkan hanya berharap mereka dapat tumbuh bahagia dengan segala rimbunya daun daun itu.
cobalah tanya padaku "tak inginkah aku seperti dahan dahan itu"??
itulah impianku menjadi dahan yang kokoh dengan benalu benalu yang masih menggantungkan hidupnya padaku...,tetapi dengan begitu aku akan merasa lebih baik,karena hidupku dapat berguna untuk kehidupan yang lain dan pada saatnya nanti disaat aku telah berbuah dan menjadikan kehidupan untuk yang lainya,dengan lantang akan kuteriakan
inilah aku dahan yang telah mengering yang menjadikan hidupku sebagai pelindung dari dahan dahan yang lain dan akan kukatakan pada tunggal aku telah menjalankan amanatmu....hingga ku bahagiakan sang serabut yang kini semakin rapuh oleh megahnya pohon keluarga ini.
terkadang terdengar seperti nyanyian bahagia dari nada jeritan asa, masih banyak lagi hiasan kemewahan yang masih terlapisi kebohongan dan selalu saja masih dia angkuhkan,bukan tidak pernah aku menunjukan kenyataan hidup yang mungkin lebih terlihat sederhana tetapi memiliki arti yang lebih bermakna......yach tetap saja tak pernah terhiraukan hanya saja semua itu menjadikanya kebencian yang semakin mendalam, apakah tak pernah dia sadari bahwa akupun sama dengan dia, terbentuk dari darah yang sama dan mempunyai akar kehipan yang sama,apakah tidak cukup apa yang telah ditunjukan sang penguasa semesta padanya ?
dan apakah harus terlebih dahulu dicambuki dengan sesuatu yang lebih dari kepedihan yang telah ada,atau setelah membusuk menjadikanya bangkai semua keangkuhan itu akan berakhir,tidakah dia melihat atas benih yang tumbuh menjadikanya dahan baru dan telah mengakar namun tak begitu kuat dan rapuh akan jalan hidup yang masih terpampang panjang,haruskah aku mengingkari janji atas ketetapan pohon ini yang ruasnya merambat megah dan besar tetapi rapuh ?
yach.....tunggal itu berbisik padaku untuk menjaga semua tetap kokoh dan tumbuh tinggi..dan menjadikan serabut tidak lagi tersakiti oleh dahan dahan yang tak dapat menjaga ruasnya mengarah tidak sesuai dengan yang semestinya namun harus tetap membuatnya tumbuh tanpa harus menggugurkan daun yang telah rimbun dengan hijaunya persauadaraan,sering kali aku bertanya kapan dahanku ini dapat berbuah dan menjadikan pohon ini tetap kokoh bertahan meski derasnya badai cobaan itu tetap menerjang ranting ranting kekeluargaan....,
jika harus biarlah semua benalu itu hinggap di ragaku dan memeras sebagian dari kehidupanku dengan harap tidak menjalar kedahan lain yang mulai berbuah ranum menyuguhkan manisnya buah kehidupan,tidak lebih yang dapat kuharapkan hanya berharap mereka dapat tumbuh bahagia dengan segala rimbunya daun daun itu.
cobalah tanya padaku "tak inginkah aku seperti dahan dahan itu"??
itulah impianku menjadi dahan yang kokoh dengan benalu benalu yang masih menggantungkan hidupnya padaku...,tetapi dengan begitu aku akan merasa lebih baik,karena hidupku dapat berguna untuk kehidupan yang lain dan pada saatnya nanti disaat aku telah berbuah dan menjadikan kehidupan untuk yang lainya,dengan lantang akan kuteriakan
inilah aku dahan yang telah mengering yang menjadikan hidupku sebagai pelindung dari dahan dahan yang lain dan akan kukatakan pada tunggal aku telah menjalankan amanatmu....hingga ku bahagiakan sang serabut yang kini semakin rapuh oleh megahnya pohon keluarga ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar